BUSERJATIM GRUOP –
Merangin Jambi Kasus ini sontak memicu amarah publik. Pejuang Subuh Merangin (PSM) dan warga menilai Kejadian Tersebut Menjadi Tragedi berdarah ini adalah aleram keras bahwa jalur dua tak lagi sekadar kawasan hiburan malam, melainkan sudah menjadi zona Yang Sangat Membahaya” yang harus segera dibereskan.14/9
“Bupati Merangin pernah janji, kalau ada yang melanggar aturan, tempat hiburan langsung dieksekusi tanpa razia. Sekarang lihat, korban sampai koma! Apa tunggu ada korban meninggal baru bertindak?” tegas Siefronhadi Ketua Iwoi. DPD Merangin.
Berdasarkan penyelidikan polisi, pengeroyokan dipicu salah paham di sebuah kafe di jalur dua. Diduga para tersangka berada dalam pengaruh minuman keras sebelum mengeroyok korban dengan balok kayu dan helm.
Namun Siefronhadi Ketua Iwo. I mengingatkan, persoalan ini tidak hanya berhenti di jalur dua. Menurutnya, keresahan warga juga terjadi di ujung jalur Sungai Ulak, Nalo Tantan, yang kini menjadi sorotan baru.
“Bukan cuma jalur dua yang bermasalah. Laporan dari warga Sungai Ulak sudah jelas, mereka terganggu setiap malam karena dentuman musik hiburan malam sampai subuh. Ruko yang dikontrak jadi tempat hiburan itu letaknya di belakang pemukiman! Ini pelecehan terhadap hak istirahat warga,” tegasnya.
Ketua iwo. I menyebut gangguan itu sudah berlangsung lama dan masyarakat merasa diabaikan. “Kalau aparat dan pemerintah hanya diam, berarti mereka ikut membiarkan. Ini bukan lagi soal hiburan, tapi soal kesehatan mental warga. Jangan tunggu ada korban lagi
Kebijakan “Manusiawi” Disorot Lagi
KEBIJAKAN Bupati Merangin, M. Syukur, yang sebelumnya memilih tidak menggusur hiburan malam atas nama “kemanusiaan” kembali disorot tajam. Banyak yang menilai kebijakan tersebut justru memberi ruang bagi aktivitas malam yang meresahkan dan memicu kriminalitas.
“Janji ‘tanpa razia langsung eksekusi’ harus ditepati. Jangan cuma gertak sambal. Kalau perlu, bupati dan Forkopimda datang langsung malam-malam, lihat sendiri apa yang terjadi di jalur dua dan Sungai Ulak. Biar mereka tahu keresahan masyarakat, tegas Siefronhadi dengan nada geram.
Masyarakat Bangko berharap tragedi ini menjadi momentum penertiban menyeluruh, bukan sekadar penangkapan pelaku. “Kalau tempat seperti ini dibiarkan liar, korban berikutnya tinggal menunggu giliran kematian tutup Siefronhadi.















