SINGARAJA, BUSERJATIM.COM GROUP- Bali kembali dibuat geger,di tengah upaya pengendalian wabah Lumpy Skin Disease (LSD) pada ternak sapi, sinyal bahaya justru muncul dari wilayah lain. Kali ini, dugaan penyakit LSD ditemukan di Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Temuan ini memperkuat kekhawatiran publik bahwa wabah LSD tidak lagi terkonsentrasi di satu wilayah, melainkan berpotensi menyebar luas ke seluruh Bali.
Menurut keterangan Ibu Ani, warga Desa Sumberklampok sekaligus pemilik sapi, ternaknya mengalami gejala mencurigakan berupa bentol-bentol di sekujur tubuh, ciri yang identik dengan penyakit LSD. Kondisi tersebut sontak menimbulkan keresahan di kalangan peternak setempat, mengingat LSD dikenal sebagai penyakit menular berbahaya yang dapat melumpuhkan ekonomi peternakan rakyat.
“Sapi saya bentol-bentol, mirip sekali seperti penyakit LSD,” ujar Ibu Ani kepada awak media.
- Pemprov Bali Janji Turunkan Tim, BBVet Sebut Akan Koordinasi
Menindaklanjuti informasi tersebut, awak media melakukan konfirmasi kepada Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanpangan) Provinsi Bali, Dr. I Wayan Sunada, S.P., M.AGB, melalui pesan WhatsApp. Ia menyampaikan bahwa pihak provinsi akan segera bergerak.
“Suksma informasinya, besok kita turunkan tim untuk melakukan pengecekan,” jawabnya singkat.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar, drh. Imron Suandy, MVPH, juga merespons konfirmasi awak media dengan menyatakan akan melakukan koordinasi di lapangan.
“Baik, terima kasih informasinya, akan kami koordinasikan dengan petugas keswan setempat,” ujarnya.
Namun, bagi sebagian kalangan, respons ini dinilai terlalu normatif dan belum menyentuh substansi ancaman wabah yang semakin meluas.
- Tokoh Masyarakat Jembrana: Sudah Dua Kabupaten Suspek, Bali Harus Lockdown Total
Kekhawatiran semakin menguat setelah tokoh masyarakat Jembrana, Dewa, menyampaikan pernyataan keras. Ia menegaskan bahwa saat ini sudah ada dua kabupaten di Bali yang menunjukkan gejala suspek LSD, dengan ciri-ciri yang sama, yakni bentol-bentol pada sapi.
“Kalau sudah dua kabupaten suspek LSD, seharusnya Kadis Provinsi berani ambil langkah tegas. Lockdown seluruh Bali. Jangan tunggu wabah menyebar ke mana-mana,” tegasnya.
Menurutnya, tanpa langkah ekstrem berupa lockdown lalu lintas ternak se-Bali, upaya pencegahan hanya akan menjadi slogan tanpa makna.
- Ironi di Tengah Darurat: Truk Sapi Diduga Nekat Keluar Bali
Di saat kekhawatiran penyebaran LSD kian nyata, publik justru dikejutkan oleh beredarnya video berdurasi 12 detik yang diduga memperlihatkan sebuah truk sapi berwarna oranye siap berangkat keluar Bali. Video tersebut bertanggal 15 Januari 2025, berlokasi di Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya, Jembrana, jalur vital penyeberangan Bali–Jawa.
Dalam video itu terdengar suara pria yang seolah menormalisasi situasi:
“Selamat sore bos haji, berangkat dari Bali, semoga selamat sampai tujuan.”
Ucapan singkat ini berubah menjadi tamparan keras bagi nurani publik. Saat wabah mengancam, saat peternak kecil menahan ternaknya, dan saat pemerintah mewacanakan lockdown, lalu lintas sapi justru diduga masih berjalan bebas.
- Dinas Akui ‘Kecolongan’, Negara Dipertanyakan
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesmavet Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, mengakui adanya insiden tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk “kecolongan”.
“Kalau dibilang kecolongan, memang kecolongan. Jembrana berbatasan langsung dengan Jawa yang sudah endemis LSD,” ujarnya.
Pernyataan ini justru memantik pertanyaan serius:
- Di mana peran negara?
- Bagaimana mungkin truk sapi bisa melintas di tengah status darurat kesehatan hewan?
Padahal, LSD dapat menular cepat, bahkan melalui vektor seperti nyamuk dan lalat. Satu truk sapi bisa menjadi bom waktu wabah lintas daerah.
- Kontroversi Lockdown: LHU Dipertanyakan
Di sisi lain, muncul pula kritik tajam terhadap kebijakan lockdown LSD di Jembrana. Sejumlah tokoh masyarakat mempertanyakan dasar administratif dan ilmiah kebijakan tersebut.
- “Kalau positif LSD, LHU-nya mana? Kalau belum ada Laporan Hasil Uji, berani-beraninya lockdown,” ujar seorang tokoh masyarakat Bali.
Pernyataan ini membuka ruang dugaan bahwa kebijakan bisa rawan dipersoalkan secara hukum jika tidak disertai transparansi data.
- Antara Koordinasi dan Lempar Tanggung Jawab
Kepala Distanpangan Bali menyebut berbagai langkah telah dilakukan: pengetatan lalu lintas ternak, distribusi disinfektan, penyemprotan insektisida, hingga rapat koordinasi lintas daerah. Namun pernyataan Kepala BBVet Denpasar yang menegaskan bahwa pengaturan daerah adalah kewenangan dinas, justru menimbulkan kesan lempar tanggung jawab.
- Dugaan Pelanggaran Hukum Serius
Jika dugaan truk sapi keluar Bali saat pembatasan benar terjadi, maka potensi pelanggaran hukum sangat serius, mulai dari UU Peternakan dan Kesehatan Hewan hingga UU Karantina Hewan, dengan ancaman pidana penjara dan denda miliaran rupiah.
- Pertaruhan Bali: Wabah, Ekonomi, dan Kepercayaan Publik
Kasus ini bukan sekadar soal satu truk sapi atau satu desa. Ini adalah ujian besar bagi Bali:
apakah negara benar-benar hadir melindungi peternak dan masyarakat, atau justru kalah oleh kelengahan dan kepentingan segelintir pihak.
Publik kini menunggu jawaban tegas:
akan ada penindakan, keterbukaan data, dan lockdown menyeluruh, atau wabah LSD dibiarkan menyebar tanpa kendali.













